picOleh : Beben Somantri

Mengapa ada sekolah?. Untuk menjawab pertanyaan itu. sekolah berasal dari bahasa Latin yaitu : skhole, scholae, schola yang berarti waktu luang. Berdasarkan pengertian itu masihkah sekolah relevan di zaman sekarang. Sekolah sangat dibutuhkan dalam rangka membantu orang tua. Walaupun pendidikan anak menjadi tanggung jawab orang tua, namun dengan pelbagai kesibukannya mereka tidak ada waktu khusus (luang) untuk mendidik anak-anaknya. Oleh sebab itu orang tua mempercayakan sebagian waktu belajar anaknya kepada sekolah. Dalam posisi inilah sekolah berperan membantu keluarga mengisi waktu luang anaknya sekaligus membantu orang tua melengkapi pendidikan anaknya.

Sekolah didirikan bertujuan membantu masyarakat. Keberadaannya dimaknai berbeda-beda oleh siswa dan orang tua yang menyekolahkan anaknya. Namun secara umum semua sekolah memiliki cita-cita agar anak didiknya berkualitas dalam banyak hal dan atau dibidang tertentu. Cita-cita itulah yang membuat orang tua siswa percaya terhadap sekolah. Tujuan pendidikan, mengajarkan anak didik untuk dapat berpikir secara rasional, independen, dan baik (Callahan & Clark, 1972).

Proses pendidikan menurut Barrow & Woods adalah memadu kemampuan transformasi, pengetahuan, dan pemahaman. Proses pendidikan di sekolah memerlukan strategi karena guru berhadapan dengan pelbagai karakter siswa dalam satu situasi dan satu waktu. Dalam situasi itu, guru harus memiliki pelbagai kecerdasan. Menurut Sumardi, ada enam kecerdasan yang harus dimiliki oleh guru yaitu : logika, bahasa, sosial, akting, emosional, dan keuletan. Semua kecerdasaan itu diramu menjadi aktivitas harian guru dalam mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi (tugas guru menurut UU Guru dan Dosen no. 14 tahun 2005).

Profesionalisme guru menjadi tantangan setiap sekolah. Profesi guru di zaman sekarang sangat disukai oleh masyarakat. Hal itu menjadi keuntungan sekaligus masalah untuk dunia pendidikan. Beruntung apabila mereka berkualitas, sangat merugikan apabila bekerja menjadi guru hanya karena mencari upah. Guru dalam kapasitasnya masing-masing berperan sebagai fasilitator, motivator, dan mediator pembelajaran. Tiga peran itu membutuhkan kemampuan (kualitas) diri. Di dalam UU Guru dan Dosen pasal 7, ada beberapa prinsip dasar yang harus dimiliki guru, yaitu memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme. Prinsip dasar itulah yang akan membuat guru mencintai pendidikan dan tetap setia kepada tugasnya. .

Peran orang tua siswa dalam aktivitas sekolah sebagai penguat silaturahmi dan penyambung rantai pendidikan. Mereka diposisikan sebagai mitra guru dalam mendidik siswa, hanya saja fokus yang dimiliki berbeda ruang dan waktu. Pendidikan siswa dirumah menjadi tanggung jawab orang tua, sedangkan guru bertanggungjawab di sekolah. Kesamaan tugas itulah yang menuntut orang tua dan sekolah perlu sering bertemu untuk mendiskusikan perkembangan siswa dan mendiskusikan strategi pembelajaran.

Kreativitas sekolah harus sinergi dengan elemen-elemen pendukung, agar cita-cita negara tentang pendidikan terwujud. Pemerintah melalui Undang-Undang Sisdiknas no. 20 tahun 2003, bab 4 tentang hak dan kewajiban warga negara, orang tua, masyarakat, dan pemerintah. Intinya semua elemen itu bertanggung jawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan. Ketentuan itulah yang menuntut sekolah tetap terlibat dengan sistem dan situasi negara. Pendidikan tidak bisa dilepaskan dari politik negara tersebut (Sirozi dalam Politik Pendidikan).

Di zaman sekarang ini sekolah dituntut untuk meningkatkan kualitas anak didik dengan pelbagai target, terutama oleh orang tua dan pemerintah. Menurut Eliot; kepala sekolah dan perangkatnya dituntut untuk mampu berperan sebagai politisi yang baik. Kebijakan dan pengelolaan sekolah, aktivitas guru dan siswa membutuhkan strategi, kreativitas, dan pertanggungjawaban. Oleh sebab itu apabila sekolah ingin tetap eksis, kepala sekolah harus berperan ke dalam dan ke luar sekolah. Peran yang dilakukannya harus berdasarkan kualitas pemimpin. Secara umum ada tiga kualitas yang harus dimiliki oleh pemimpin; yaitu kompetensi, relasi, dan karakter.

Kompetensi

Kepala sekolah dituntut untuk memiliki kemampuan dalam membuat kebijakan, mengelola kebijakan, dan mempertanggungjawabkannya. Kemampuan yang dimaksud adalah melakukan proses tanpa henti (on going process) untuk menjadikan sekolah terus berkualitas dan semakin berkualitas. Untuk mencapai itu, kepala sekolah harus sadar, bahwa dirinya tidak akan mampu mengelola sekolah sendirian. Perlu ada keterlibatan orang lain dan lembaga lain. Menurut Howard Hendricks bila seseorang ingin terus memimpin, ia harus terus mengadakan perubahan atau mau terus menerima gagasan baru. Kepala sekolah harus memiliki kecerdasan ilmu pengetahuan dan sosial.

Relasi

Mengelola sekolah membutuhkan keterlibatan orang lain dan lembaga lain. Sebagai pemimpin yang berperan memfasilitasi guru dan membimbing siswa, maka kepala sekolah wajib mengikuti perkembangan situasi dan zaman. Hal itu diperlukan agar dirinya tetap eksis dan diakui oleh masyarakat. Pengetahuannya harus di atas guru agar menjadi tauladan di sekolah. Keterlibatannya terhadap masyarakat dan instansi pendidikan harus memiliki nilai positif terhadap sekolah. Dalam situasi itu berarti kepala sekolah berperan sebagai pencari ilmu pengetahuan dan penyebar ilmu pengetahuan di sekolah dan masyarakat.

Karakter

Kepala sekolah adalah pemimpin utama sekolah, berarti seseorang yang diberi amanah untuk memimpin. Syarat penting seorang pemimpin, diakui kualitasnya dan diakui kehadirannya oleh pemberi amanah, mitra kerja, dan masyarakat (anggota) tempat kebijakannya disampaikan. Dalam pengertian umum, pemimpin harus mampu memengaruhi situasi dan menyesuaikan situasi. Secara spesifik kepala sekolah harus terus mengikuti perkembangan pendidikan, gedung sekolah, perlengkapan sekolah, guru dan staf sekolah, dan siswa.

Itulah sekilas tentang sekolah dan peran kepala sekoalah. Setiap pengelola sekolah (pemerintah, yayasan, dan manajemen sekolah) memiliki cita-cita ideal tentang pendidikan. Namun fakta kesulitan pembelajaran masih menjadi pekerjaan yang belum tuntas dan harus diupayakan terus-menerus agar pendidikan Indonesia bangkit dan berkualitas. Pada akhirnya, tiga komponen pendukung pembelajaran yaitu keluarga, sekolah, dan pemerintah yang akan membantu membentuk anak didik menjadi generasi penerus yang berkualitas. Ayo bekerjasamalah

Beben Somantri

Kepala Sekolah Peradaban Cilegon

Add comment


Security code
Refresh