Hari Pertamaku Di Sekolah

Anak-anak sering kali mengalami ketakutan yang berlebihan terutama bila berada di tempat yang baru (asing), termasuk sekolah. Dan mereka membutuhkan adaptasi untuk meredakan ketakutannya ini.

Masuk sekolah bagi sebagian besar anak merupakan hal yang mengerikan. Jadi, rasanya tidak realistis jika mengharapkan anak secara spontan memiliki kemampuan dan strategi yang dibutuhkan untuk menyesuaikan diri dengan sekolah. Anak-anak membutuhkan saran, dukungan dan penerimaan dari orang-orang di sekitarnya, terutama ibu. Gunanya adalah untuk meyakinkan bahwa sekolah merupakan tempat yang menyenangkan, bukan tempat yang bikin stress.

Penyesuaian yang harus dilakukan pada hari pertama masuk sekolah diantaranya adalah belajar mengatasi ketakutan terhadap ketidaktahuan anak tentang sekolahnya dan belajar mengatasi ketakutan terhadap perpisahan dengan orangtua.

Meskipun tidak ada yang bisa menghilangkan rasa takut anak seratus persen, minimal anak punya kesempatan untuk mengekspresikannya. Sehingga orangtua dan guru bisa bekerja sama untuk meredakan rasa takut tersebut.

Anak-anak membutuhkan gambaran yang jelas tentang sekolahnya, jawaban yang jujur serta detail. Maka pihak sekolah merencanakan sejak awal penyambutan untuk siswa baru, kegiatan yang berkesan dan menyenangkan pertama kali di sekolah.

Kadang-kadang, butuh waktu beberapa saat untuk mengetahui apa yang ditakuti anak. Anak akan sulit mandiri jika perpisahan dilakukan dalam suasana sedih. Anak membutuhkan penjelasan yang tegas dan jujur yang mengajarkan bahwa orangtua dan anak tidak bisa selalu bersama-sama. Jika berpisah, mereka tetap bisa bahagia dan percaya diri, karena setelah sekolah mereka akan berkumpul kembali.

Empat langkah yang perlu diingat bagi orangtua adalah harus menampilkan perasaan tenang, jangan meninggalkan anak diam-diam, biarkan anak menangis dan kembalilah dengan tersenyum.

Orangtua harus punya bekal pengetahuan yang benar tentang kriteria sekolah baik untuk anaknya. Jangan sampai terkecoh dengan label sekolah favorit atau fasilitas yang mewah.

Jangan sampai memilih sekolahnya Robot : anak yang beranekaragam dicetak dengan pola, bentuk dan warna yang sama. Padahal, kecenderungan kecerdasan mereka berbeda-beda.

Ketika setiap kemampuan anak dihargai dan tidak disempitkan, sekolah tidak boleh memilah-milah mereka dengan kriteria kemampuan kognitif. Akselerasi kelas yang tidak adil akan berakibat menjadi penyakit pendidikan.

Pendidikan anak adalah investasi orangtuanya dunia dan akhirat. Orangtua tidak boleh pelit memfasilitasi anak untuk belajar. Terkadang, pendidikan masih diartikan pengeluaran yang harus dihemat. Sementara di sisi lain, gaya hidup konsumtif sangat berlebihan dan tidak sebanding dengan biaya sekolah anak-anak.

Tidak ada sekolah dan guru yang sempurna, sebab mereka juga manusia. Namun, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Orangtua yang bijak selalu memberikan masukan dan kritik membangun kepada sekolah demi kelangsungan belajar dan keberhasilan anaknya, juga semua siswa pada umumnya.

Anak belajar dengan caranya masing-masing. Kenyamanan belajar sangat menentukan hasil belajar yang maksimal. Gaya belajar anak seperti pintu pembuka. Setiap butir informasi yang masuk lewat pintu terbuka lebar, akan memudahkan anak memahami informasi itu. Pada puncak pemahaman, informasi itu akan masuk ke memori jangka panjang dan tak terlupakan seumur hidup.

Banyak mitos tentang anak belajar. Kesalahan memandang cara belajar anak disebabkan orangtua tidak pernah memberikan kesempatan kepada anak untuk menggunakan gaya belajarnya dengan bebas.

Sebenarnya, orangtua mampu menjadi guru terbaik anaknya jika menerapkan langkah-langkah tepat dalam membantu anaknya belajar yaitu istirahat, gaya belajar anak, manfaat setiap materi dan konfirmasi hasil belajar.

Serang, 10 Mei 2014

Diyah Apriyani, S. Pt

(Fasilitator SPC)

Add comment


Security code
Refresh