Sekedar mengingatkan saja dan untuk direnungkan
tanpa ada maksud untuk mengurui atau apapun itu namanya

Ingin berapa lama, sih kita hidup bersama anak?

Usia 20 tahunan, kita membentuk keluarga, menikah, punya anak, mendampingi masa balita hingga sekolah dasar. Lalu, kita berkata : Oh, lucunya mereka..

Usia 30 tahunan, kita menemukan anak-anak yang ternyata sudah remaja, jatuh cinta, dan mulai banyak keluar rumah. Lalu, kita berkata : ohcantik dan gantengnya mereka..

Usia 40 tahunan, pada umumnya anak kita telah menggapai cita-cita mereka, kuliah makin jauh dari orang tua, berasrama, kos atau di rumah. Lalu, kita berkata : Allah.. jagalah mereka..

keluargaUsia 50 tahunan, kita menemukan mereka semakin jauh dari orangtuanya, mandiri, dan membentuk keluarga sendiri. Lalu, mereka hadirkan bayi lagi di pangkuan tangan kita yang mulai keriput. Lalu, kita berkata : ya Allah, betapa singkatnya hidup ini. Jangan jadikan kami termasuk orang yang menyia-nyiakan kehidupan. Lindungi keluargaku, anak keturunanku dari siksa dunia dan akhirat.

Jika begitu, usia hidup kita tak berulang, kan? Jika begitu, usia anak kita pun tak berulang, kan? Jika begitu, sangat singkat masa mendampingi anak-anak kita, bukan?

Jika begitu, jangan pernah ridha jika anak kita bisa mengenal huruf-huruf, bisa membacanya, bisa mempelajarinya, hasil dari tangan orang lain, dari outsourcing

Jika begitu, cemburu rasanya, jika anak kita hanya mau belajar bersama guru di sekolah, tetapi tidak mau bersama kita, orangtuanya..

Jika begitu, seharusnya tidak nyamanlah hati kita, jika anak kita disuruh mengerjakan PR dengan guru lesnya, bukan dengan kita, orang tuanya

Jika begitu, saat tubuh kita terbujur kaku, jangan marah ya, jika anak me-outsourcing-kan pengurusan jenazah kita hanya kepada ustad dan ustadzah, kepada para pemuka agama, sedangkan mereka sendiri tak bisa melakukannya..
Jika tidak, ayolah.. beri manfaat waktu kita, sedikit saja, untuk anak-anak kita, bukan sekedar uang jajan atau mainan mereka semata. Itu semua penting, namun kesungguhan kita menjadi orang tua akan memberikan dampak berbeda bagi anak-anak kita


sumber : kutipan dari Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari- Direktur Auladi Parenting School-

Apa yang terbesit dibenak teman-teman semua? Apakah sama dengan yang saya pikirkan?? Hanya Allah yang tahu apa yang kita pikirkan setelah tulisan ini sahabatku beruntunglah bagi teman-teman semua yang sudah mendapatkan amanah untuk menjadi ibu ataupun ayah sungguh saya katakan sangatlah beruntung.. ketika anak kita.. memanggil kita dengan sebutan ayah, abi, papa, bapak, bunda, ibu, umi, atau mama.. sangatlah indah untuk didengar, menghilangkan kepenatan dan beban kerja seharian

Teman, manfaatkanlah moment indah itu bersama anak-anak kita dengan sebaik-baiknya.. manfaatkan waktu kita dan sediakan ruang cinta untuk anak-anak kita mengekspresikan cinta nya kepada kita, kerinduannya akan kehadiran kita,..jangan sampai anda menyesal dikemudian hari.. karena kebersamaan anda dan anak anda sangat sangat lah terbatas

Untuk yang masih membujang, atau yang masih sendiri dalam penantiannya atau memilih untuk tidak menikah segerakanlah niat baik anda semua untuk menuju pernikahan yg penuh keberkahan dunia akhirat.. membina keluarga yang SAMARADA dengan pondasi cinta karena Allah ditambah dengan seluas komunikasi cinta milik Nya dan dibingkai dengan Alquran dan As Sunah..

Perlu di ingat kita tidak bisa merequest, mau seperti apa kehidupan kita kepada allah
Dan Allah pun tidak akan tinggal diam dengan kehidupan kita

Mohon maaf, jika tidak berkenan dihati.. sebuah renungan untuk diri sendiri semoga bisa diambil manfaatnya oleh kita semua..

Add comment


Security code
Refresh