diujungdesa kami bicarakan kemerdekaan Oleh: Beben Somantri, S.Pd. *

Setiap tanggal 17 Agustus bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaan dan 17 Ramadan umat Islam memeringati nuzurul Quran . Pada tahun ini dua peringatan itu tepat dihari dan tanggal yang sama. Bulan pada saat kemerdekaan di proklamasikan, 17 Agustus tahun 1945 juga bulan Ramadan. Bagi penganut Islam Indonesia bulan ini merupakan bulan yang selalu diharapkan karena memiliki banyak sejarah dan kebaikan.

17 Agustus bernilai sejarah bagi bangsa Indonesia karena pada bulan itu kemerdekaan Republik Indonesia di proklamasikan. Ramadan bagi mayoritas bangsa Indonesia merupakan bulan istimewa karena banyak berkah dan kemuliaan. Sedangkan tanggal 17 Ramadan merupakan awal diturunkannya Alquran. Kalau kita pahami dan maknai surat pertama dalam Alquran menyuruh manusia untuk membaca. Maka dalam peringatan yang bersamaan ini kita diingatkan supaya membaca pelbagai hal untuk meningkatkan kualitas bangsa dan agama.

Memeringati kemerdekaan berarti mengenang masa lalu. Apa yang terjadi pada saat itu menjadi jalan untuk direnungkan, dipelajari, dan diambil hikmahnya. Setelah merayakan hari kemerdekaan apakah kita sebagai bangsa dapat mengevaluasi apa yang terjadi? Indonesia menjadi lebih baik atau masih memperjuangkan kemerdekaan walaupun kemerdekaan dalam bentuk yang berbeda.

Mengapa pada peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-66 sebagian bangsa Indonesia belum merasakan nikmatnya kemerdekaan. Puluhan tahun negara ini terus berbenah agar bangsa ini terbebas dari belenggu terutama kemiskinan dan kebodohan, tetapi berlimpahnya kekayaan alam belum mampu dikelola dengan baik karena kita miskin pengetahuan dan miskin sosial . Sabda nabi Muhammad saw, sebuah negara menjadi makmur dengan adilnya penguasa, pandainya cendekiawan, dermawannya orang kaya, dan doanya orang miskin. Itulah komposisi bermasyarakat yang saling melengkapi dan menjadi dambaan masyarakat.

Memaknai proklamasi kemerdekaan, ada baiknya kita mengenang pidato Soekarno jelang proklamasi kemerdekaan. katanya; kita percaya kepada kekuatan sendiri, mengambil nasib bangsa dan tanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Itulah cita-cita yang disampaikan pendahulu kita, bahwa kemandirian menjadi harapan agar mampu berdaulat (pemerintahan sendiri). Namun pada peringatan kemerdekaan tahun ini kemiskinan, kesehatan, keamanan, pendidikan, dan supremasi hukum masih menjadi persoalan bangsa. Padahal semua itu sudah diamanatkan dan tertuang di dalam Undang-Undang Dasar negara Republik Indonesia sejak tahun 1945.

Kita harus sadar bahwa 66 tahun belum cukup bagi bangsa Indonesia untuk merdeka seutuhnya. Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945 bukanlah pembebasan dari seluruh belenggu yang menimpa rakyat Indonesia tetapi pembebasan dari penjajahan negara lain (baca teks proklamasi) oleh sebab itu rakyat harus waspada mengenai penjajahan dalam bentuk yang berbeda terutama dari bangsa sendiri. Perjuangan untuk menyejahterakan bangsa tidak boleh lengah sedikit pun, harus terus-menerus antara doa dan berupaya.

Negara ini memerlukan tauladan dan reformis yang mampu mempersaudarakan dan mampu membuat masyarakat toleransi dalam pelbagai hal. Menurut Hasan Albana, reformis adalah orang yang selalu berada di tempat di mana ia mampu menginterpretasikan ide-ide dan pemikirannya. Mari kita bangkit, gunakanlah segala potensi yang dimiliki untuk memajukan bangsa dan negara. Masyarakat rindu keteladanan dan kita semua harus rindu untuk menjadi teladan.

Ramadan tahun ini mari kita bernostalgia, kembali ke masa proklamasi kemerdekaan. Pada waktu itu di bulan Ramadan bangsa Indonesia bersyukur dan bergembira karena negara Indonesia diproklamasikan bebas dari penjajahan dan menjadi negara yang berdaulat, sejak saat itu Indonesia menata diri untuk kemajuan bangsa dan negara.

Bulan ini peringatan kemerdekaan bersamaan dengan nuzurul Quran. Saatnya perayaan 17 Agustus 1945 diperkuat dengan memohon doa yang tulus dan khusu kepada Allah pada malam 17 Ramadan. Semoga Nuzurul Quran membuat bangsa ini bermunajat dan selalu ingat bahwa Alquran merupakan petunjuk bagi kehidupan ini. Amin.

* Beben Somantri

* Kepala Sekolah Peradaban Cilegon

* Sekretaris Ikatan Keluarga Alumni FKIP Untirta

Comments   

0 #1 utay 2016-10-31 11:26
angka 17 menjadi angka yang sakral bagi bangsa indonesia dan untuk orang muslim angka 17 belas itu menandakan kewajiaban sholat dalam lima waktu yang berjumlah 17 rakaat dlm sehari semalam. angka 17 ini memang istimewa.
Quote

Add comment


Security code
Refresh