YAKIN? SEKOLAH ANAK KITA YANG TERBAIK

Mungkin banyak versi tentang alasan orang tua memilih sekolah untuk anaknya. Dua diantaranya; kesatu, sekolah itu dianggap terbaik dan kedua, hanya sekolah tersebut yang menerima anak kita. Berdasarkan dua versi tadi, bapak/ibu memilih sekolah karena alasan apa?

Mungkin saja karena alasan yang lain. Boleh berpendapat seperti itu namun pasti alasan tersebut melekat kepada dua versi tersebut. Sekolah terbaik, atau tidak ada pilihan selain sekolah tersebut. Penulis tidak membahas tentang manakah pilihan bapak/ibu. Mari kita bersama-sama untuk mendapatkan formula agar anak kita sukses dalam belajar.

Mungkin kita sebagai orang tua selalu mengharapkan pendidikan anak kita berada di sekolah yang terbaik. Namun banyak faktor yang bisa saja menghambat untuk itu, misalnya sekolah  telah tutup karena kuota sudah terpenuhi atau karena alasan administrasi anak kita ditolak di sekolah tersebut.

Mungkin juga ada yang menyekolahkan anaknya, namun sampai sekarang bapak/ibu masih ragu dengan kualitas sekolah tersebut. Saya sebagai guru, menyarankan segeralah pindahkan anak itu ke sekolah yang menurut bapak/ibu yang terbaik, khawatir  respons batin bapak/ibu masuk ke jiwa anak, sehingga aura keraguan melekat kepada sikap anak di sekolah.

Mungkin penjelasan saya banyak yang meragukan. Mari kita pahami formulanya. Sikap kita merupakan produk dari jiwa (batin) kita. Setiap tindakan yang akan kita lakukan, pasti berdasarkan respons batin kita. Ada juga yang sifatnya spontan  karena terburu-buru, namun tetap respons batin menyumbang untuk tindakan tersebut.

Mungkinkah anak kita akan terbantu belajarnya di sekolah yang orang tuanya meragukan kualitas sekolah tersebut. Mungkin ada yang menjawab; mungkin, namun saya menyakini tidak sebaik yang sekolahnya dianggap baik oleh orang tuanya. Sekecil apapun keraguan kita terhadap sesuatu akan menyumbangkan nilai negatif terhadap hasilnya.

Mungkin untuk yang percaya penjelasan tersebut, segeralah berdiskusi dengan keluarga. Apakah benar memilih sekolah untuk anak karena yakin sekolah tersebut berkualitas, atau  terpaksa karena sekolah yang lain tidak menerima anak kita. Segera pastikan dimanapun anak sekolah memang karena orang tua memilih sekolah terbaik untuk anaknya. Kalau keraguan masih menempel di batin bapak/ibu segera hilangkan, pastikan sekolah anakku untuk kualitas anakku. Amiiiin

Beben Somantri

-Kepala SD Peradaban

-Penasihat Ikatan Mahasiswa Keguruan dan Ilmu Pendidikan Seluruh Indonesia

2007- sekarang

-Ketua Harian Ikatan Keluarga Alumni Untirta 2014-2017

Demokrasi yang Mati Suri

Demokrasi di Indonesia sepertinya sedang mati suri. Salah satu contohnya adalah demokrasi pendidikan. Akhir-akhir ini banyak nasib guru yang berujung di penjara atau di pengadilan. Padahal demokrasi pendidikan merupakan pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama di dalam berlangsungnya proses pendidikan antara pendidik dan anak didik serta dengan pengelola pendidikan. Pendidikan yang demokratis memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anak untuk mendapatkan pendidikan di sekolah sesuai dengan kemampuannya.

Sadar ataupun tidak, terkadang kita sebagai pendidik pun membatasi peranan demokratis kepada anak didik kita. ‘Mengkebiri’ bakat dan potensi terbaik anak didik pun demikian juga orangtua yang membatasi hak anaknya dalam mengembangkan potensi terbaiknya dibidang pendidikan. Hasilnya yang terjadi adalah banyak penyalahgunaan dan penyimpangan makna demokratis di lingkungan pendidikan.

Ironisnya pengaruh kuat yang merusak potensi kecerdasan itu ternyata datang dari lingkungan terdekat mereka. Rumah dan sekolah. Situasi rumah yang menimbulkan depresi dan rasa terasingkan berperan memupus bakat alamiah ini. Tekanan juga bisa datang dari orangtua yang karena sebab tertentu malah menghambat kreatifitas, keingintahuan, kegembiraan dalam bermain anak-anak. Ambisi orangtua agar anak-anak mereka meraih prestasi tertentu mendorong anak-anak ini untuk tumbuh terlampau cepat melampaui usia mental mereka dan pada saat bersamaan menghilangkan kegembiraan masa kecil mereka. Padahal para ahli mengingatkan bahwa anak belajar dari permainan mereka. Bagi anak-anak bermain bukan aktivitas “remeh” melainkan aktivitas yang serius terutama bagi perkembangan mereka.

Sementara itu di sekolah, perusakan potensi kecerdasan alami itu terjadi lewat kurikulum yang terlampau kaku, tidak fleksibel atau malah membebani. Situasi sekolah yang tidak menyenangkan, guru yang mengajar dengan cara yang membosankan juga ikut andil menyumbang terkuburnya potensi alami tersebut.

Masih ada waktu untuk memperbaiki semua kekeliruan dan penyimpangan ini, sehingga demokrasi pendidikan tidak akan mati suri lagi. Salah satu caranya adalah kita sebagai pendidik yang berperan di sekolah meluruskan kembali niat kita dalam mendidik dan membina anak didik kita, mengkondisikan agar anak-anak tumbuh dengan kreatifitas mereka sendiri, tidak kehilangan kegembiraan masa kecil mereka, dan membuka ruang yang lebar untuk mengeksplorasi lingkungannya. Kecerdasan alami anak dirangsang lewat kegiatan sederhana seperti bercerita, permainan, kunjungan ke tempat tertentu, dan mengajukan pertanyaan kritis. Orangtua yang berperan di rumah memberikan cukup waktu dan kasih sayang kepada anak, mendukung, memotivasi, tidak membanding-bandingkan dan menghargai semua potensi yang dimiliki anak.

Insyaallah, jika semua perangkat kebijakan dan satuan pendidikan bersinergi dengan baik tidak menutup kemungkinan pendidikan yang demokratis di Indonesia akan melahirkan generasi yang berkarakter dan siap menghadapi tantangan dunia sesuai zamannya.

Penulis

Diyah Apriyani, S.Pt.